KEDIRI – Dimulainya rangkaian persiapan musim haji 2027 lebih awal dibanding tahun-tahun sebelumnya menjadi peluang bagi calon jemaah haji (CJH) untuk mempersiapkan diri secara lebih matang. Tidak hanya dari sisi administrasi, kesiapan kesehatan fisik dan mental kini menjadi perhatian utama agar para calon jemaah dapat memenuhi syarat istitaah atau kemampuan melaksanakan ibadah haji.
Dinas Kesehatan Kota Kediri mengingatkan bahwa sebagian besar kendala yang menyebabkan calon jemaah gagal berangkat ke Tanah Suci sebenarnya berasal dari penyakit tidak menular yang erat kaitannya dengan pola hidup sehari-hari. Kondisi seperti hipertensi, diabetes melitus, hingga riwayat stroke masih menjadi penyebab terbanyak seseorang dinyatakan belum memenuhi syarat kesehatan untuk berhaji.
Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Kediri, Hendik Supriyanto, mengatakan dimulainya tahapan haji lebih awal memberikan waktu yang cukup bagi masyarakat untuk memperbaiki kondisi kesehatannya sebelum menjalani pemeriksaan kesehatan resmi.
Menurutnya, calon jemaah diimbau mulai menerapkan perilaku hidup sehat sejak sekarang. Mulai dari menjaga pola makan bergizi seimbang, memperhatikan waktu istirahat, rutin berolahraga, hingga mengendalikan penyakit kronis apabila sudah memiliki riwayat hipertensi maupun diabetes.
"Mulai sekarang kita imbau untuk berperilaku hidup sehat, istirahatnya diperhatikan, pola makannya diatur, olahraga, dan sebagainya. Harapannya dengan menjaga kesehatan, nantinya calon jemaah bisa memenuhi syarat istitaah dan berangkat ke Tanah Suci," ujar Hendik.
Ia menjelaskan, sebagian besar calon jemaah haji merupakan kelompok lanjut usia dengan usia di atas 60 tahun. Pada kelompok usia tersebut, risiko penyakit tidak menular cenderung lebih tinggi sehingga memerlukan perhatian khusus sejak jauh hari.
Hipertensi, diabetes, dan stroke menjadi penyakit yang paling sering ditemukan saat pemeriksaan kesehatan calon jemaah. Selain kondisi fisik, kesiapan mental juga menjadi aspek penting yang tidak boleh diabaikan mengingat ibadah haji membutuhkan stamina, ketahanan psikologis, serta kemampuan beradaptasi dengan lingkungan dan aktivitas yang padat.
"Terkadang mental juga ada yang masih kurang siap untuk menunaikan ibadah haji. Karena itu, selain menjaga kondisi fisik, kesiapan mental juga perlu dipersiapkan sejak dini," tambahnya.
Hendik berharap waktu persiapan yang lebih panjang dapat dimanfaatkan sebaik mungkin oleh para calon jemaah. Dengan demikian, ketika jadwal pemeriksaan kesehatan dari Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mulai dilaksanakan, kondisi kesehatan para calon jemaah sudah lebih optimal.
Sebagaimana diketahui, tahapan penyelenggaraan ibadah haji musim 2027 telah dimulai hanya beberapa pekan setelah kepulangan kloter terakhir jemaah haji Indonesia tahun 2026. Di Kota Kediri, sebanyak 329 orang telah masuk dalam daftar panggilan pertama dan mengikuti kegiatan pengarahan yang digelar Kantor Kemenhaj Kota Kediri pada 21 Juli lalu.
Dari jumlah tersebut, tercatat sedikitnya enam orang dipastikan tidak dapat melanjutkan proses pemberangkatan karena telah meninggal dunia. Sementara itu, calon jemaah lainnya diharapkan memanfaatkan waktu persiapan yang masih cukup panjang untuk menjaga kesehatan sehingga dapat memenuhi syarat istitaah dan menunaikan ibadah haji sesuai jadwal keberangkatan pada musim haji 2027.(red/lis)
Posting Komentar