Saat Nongkrong Tak Lagi Hangat, Mengenal Fenomena Phubbing di Era Digital

ILUSTRASI Fenomena phubbing makin sering terjadi di kalangan Gen Z (photo by radar malang)


Malang
– Pernah merasa suasana nongkrong bersama teman terasa canggung karena hampir semua orang lebih sibuk menatap layar ponsel daripada mengobrol? Fenomena tersebut kini semakin sering ditemui, terutama di kalangan generasi muda, dan dikenal dengan istilah phubbing atau phone snubbing.

Phubbing merupakan perilaku mengabaikan orang yang sedang berada di hadapan kita karena perhatian lebih terfokus pada telepon genggam. Kebiasaan ini berkembang seiring meningkatnya penggunaan media sosial dan aplikasi percakapan yang membuat banyak orang terdorong untuk terus memeriksa notifikasi, membalas pesan, atau mengikuti informasi terbaru.

Sekilas, kebiasaan ini mungkin tampak sepele. Namun, dalam jangka panjang phubbing dapat memengaruhi kualitas interaksi sosial. Momen berkumpul yang seharusnya menjadi kesempatan berbagi cerita dan mempererat hubungan justru berubah menjadi situasi di mana setiap orang tenggelam dalam dunia digitalnya masing-masing.

Salah satu faktor yang mendorong munculnya phubbing adalah Fear of Missing Out (FoMO), yaitu rasa khawatir tertinggal informasi, tren, atau percakapan yang sedang ramai di media sosial. Perasaan tersebut membuat sebagian orang merasa harus terus memantau ponsel, bahkan ketika sedang berbincang dengan keluarga, teman, atau pasangan.

Selain FoMO, kecanduan terhadap smartphone juga menjadi penyebab yang tidak kalah besar. Kebiasaan membuka ponsel berulang kali dalam waktu singkat membuat seseorang sulit memberikan perhatian penuh kepada lawan bicara. Akibatnya, komunikasi tatap muka menjadi kurang berkualitas dan interaksi sosial perlahan kehilangan maknanya.

Para psikolog menilai kebiasaan phubbing dapat berdampak pada hubungan interpersonal. Orang yang sering diabaikan karena lawan bicaranya sibuk bermain ponsel cenderung merasa kurang dihargai, tidak didengarkan, bahkan dapat mengalami penurunan kedekatan emosional apabila kondisi tersebut terus berulang.

Meski demikian, phubbing bukanlah kebiasaan yang tidak bisa diubah. Ada berbagai langkah sederhana yang dapat diterapkan untuk menciptakan interaksi yang lebih hangat saat berkumpul bersama.

Salah satunya adalah menerapkan aturan "tumpuk HP" di atas meja selama acara berlangsung. Dalam permainan ini, siapa pun yang pertama kali mengambil ponselnya harus menerima konsekuensi, misalnya mentraktir makanan atau minuman. Cara sederhana tersebut mulai populer di berbagai komunitas karena dinilai efektif mendorong setiap orang untuk lebih fokus menikmati kebersamaan.

Selain itu, waktu berkumpul juga dapat diisi dengan aktivitas yang lebih interaktif, seperti bermain Uno, board game, tebak kata, atau berbagi cerita secara bergantian. Jika penggunaan ponsel memang diperlukan, kelompok dapat membuat kesepakatan untuk membuka media sosial hanya pada waktu tertentu, misalnya 10 hingga 15 menit sebelum atau setelah acara selesai.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, smartphone memang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Namun, menjaga keseimbangan antara aktivitas digital dan komunikasi tatap muka tetap menjadi hal yang tidak kalah penting. Kehadiran secara utuh dalam sebuah percakapan, mendengarkan dengan penuh perhatian, serta menikmati momen bersama orang-orang terdekat merupakan fondasi utama dalam membangun hubungan sosial yang sehat dan bermakna.

Pada akhirnya, esensi dari berkumpul bukan sekadar berada di tempat yang sama, melainkan menciptakan koneksi yang nyata. Mengurangi kebiasaan phubbing dapat menjadi langkah sederhana untuk membangun komunikasi yang lebih berkualitas sekaligus mempererat hubungan dengan keluarga, sahabat, maupun pasangan.(red/lis)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama