BATU – Kabar viral mengenai dugaan praktik tidak higienis yang dilakukan seorang pedagang wedang ronde di kawasan Alun-Alun Kota Batu mendapat perhatian dari Paguyuban Pasar Laron. Pihak paguyuban langsung melakukan klarifikasi dengan mendatangi lokasi usaha pedagang yang disebut dalam unggahan media sosial tersebut.
Ketua Paguyuban Pasar Laron, Sahid, mengatakan pihaknya menemui karyawan serta pemilik usaha wedang ronde untuk mengetahui fakta sebenarnya terkait informasi yang beredar.
Menurut Sahid, klarifikasi dilakukan karena isu tersebut telah ramai diperbincangkan dan berpotensi berdampak terhadap citra pedagang kaki lima di kawasan Pasar Laron.
"Nggak, sebenarnya soal viral di media sosial ini saya belum paham betul. Saya semalam mencari orang yang bersangkutan. Saat itu yang menjaga adalah karyawannya karena pemilik usaha sedang keluar," ujar Sahid.
Dalam pertemuan tersebut, Sahid menanyakan langsung terkait dugaan bahwa sisa kuah maupun isian wedang ronde dari pembeli sebelumnya dimasukkan kembali untuk dijual kepada pembeli lain.
Namun, tudingan tersebut dibantah oleh pihak pedagang. Mereka menyatakan tidak pernah mengolah kembali sisa makanan atau minuman bekas pelanggan.
"Saya tanyakan, apakah sisa-sisa ini dimasak lagi. Pernyataannya tidak membenarkan hal tersebut," jelas Sahid.
Pedagang Klaim Sisa Pembeli Langsung Dibuang
Sahid menjelaskan, terdapat perbedaan antara narasi yang beredar di media sosial dengan kondisi sebenarnya di lapangan. Dalam unggahan viral disebutkan bahwa sisa kuah dimasukkan kembali ke dalam panci.
Namun, berdasarkan hasil pengecekan, pedagang wedang ronde tersebut tidak menggunakan panci sebagai tempat penyimpanan kuah, melainkan menggunakan ceret atau teko.
"Kalau dari komentar di media sosial disebut dimasukkan ke panci kemudian dituangkan lagi. Padahal orangnya menggunakan ceret, bukan panci," ungkapnya.
Ia menambahkan, pihak pedagang memastikan seluruh sisa makanan maupun minuman dari pembeli selalu dibuang dan tidak pernah dikembalikan ke wadah utama.
"Sudah dijelaskan bahwa belum pernah mengembalikan ke wadah utama. Sisa pembeli langsung dibuang ke tempat sampah," tegas Sahid.
Paguyuban Khawatir Dampak ke Pedagang Lain
Sahid menduga munculnya isu tersebut berkaitan dengan persaingan usaha di kawasan kuliner Kota Batu. Dugaan itu muncul karena lapak wedang ronde milik Pak Jarwo selama ini cukup ramai dikunjungi wisatawan.
Ia menilai informasi yang tersebar di media sosial belum didukung bukti kuat karena hanya berupa tulisan tanpa rekaman kejadian.
"Dugaan saya bisa saja karena persaingan, apalagi jualannya ramai. Kalau tidak ada video, hanya tulisan, tentu perlu diklarifikasi dulu kebenarannya," katanya.
Sahid menyayangkan penyebaran informasi yang belum terbukti tersebut karena dapat berdampak terhadap pedagang lain di kawasan Pasar Laron.
Menurutnya, sebelum isu ini muncul, kondisi kunjungan ke kawasan tersebut sudah mengalami penurunan. Dengan adanya kabar negatif yang beredar, ia khawatir wisatawan semakin enggan datang.
"Dampaknya kunjungan berkurang. Sebelum ada kasus seperti ini saja sudah sepi, dengan adanya isu ini bisa semakin berpengaruh," pungkasnya.
Sebelumnya, sebuah unggahan di media sosial Threads viral setelah seorang wisatawan mengaku melihat dugaan oknum pedagang wedang ronde di Alun-Alun Kota Batu mencampurkan kembali sisa kuah dan isian bekas pembeli untuk disajikan kepada pelanggan lain. Hingga kini, pihak paguyuban dan pedagang terkait menyatakan tudingan tersebut tidak terbukti berdasarkan hasil klarifikasi.(red/lis)
Posting Komentar